9 Bulan PT Polyprima Hentikan Produksi

 

Manajemen akan Bertemu Dengan Wali Kota

CILEGON, (FB).-Sudah sekitar 9 bulan PT Polyprima Karya Reksa, sejak Oktober 2007 tidak lagi menjalankan kegiatan produksi. Hal tersebut, kata dia, disebabkan karena perusahaan tidak mampu menahan beban kenaikan harga bahan baku menyusul kenaikan harga minyak dunia. Sementara, manajemen perusahaan tidak sanggup memenuhi tuntutan buruh yang mendesak perusahaan melakukan peninjauan upah.

Demikian dikatakan General Manager (GM) HRD & GA PT. Polyprima Karya Reksa, M. H. Joni, kepada Fajar Banten. Dia juga mengaku pada Selasa (8/7) mendatang, pihaknya akan bertemu dengan Wali Kota Cilegon, Tb. Aat Syafa`at untuk membahas permasalahan perusahaan dan buruhnya.

“Mulai 2006 kondisi perusahaan mulai merugi. Begitu juga pada 2007, diikuti dengan tidak beroperasinya perusahaan, tepatnya pada Oktober sampai sekarang ini. Cashflow perusahaan terganggu karena harga bahan baku mahal. Namun, sampai saat ini karyawan masih tetap dipekerjakan dan diberi upah setiap bulannya,” kata Joni, kepada Fajar Banten, kemarin.

Joni mengatakan, manajemen perusahaan masih terus berupaya agar pabrik bisa kembali beroperasi. Direksi dan pemegang saham, kata dia, tengah berusaha mencari jalan keluar dengan bantuan pihak perbankan maupun calon investor baru.

“Kami tidak bermaksud menutup perusahaan, namun kami tidak sanggup memenuhi permintaan para buruh yang mendesak ada peninjauan upah. Jangankan menaikkan upah buruh, tapi bertahan menghidupkan perusahaan dan upaya tetap membayarkan gaji karyawan sudah termasuk bagus. Bayangkan saja, sudah tidak produksi 9 bulan, tapi gaji karyawan tetap lancar. Manajemen pun sudah berkali-kali menggelar pertemuan dengan serikat pekerja, namun mereka belum paham dengan kondisi perusahaan,” kata Joni.

Akibat tidak beroperasinya perusahaan tersebut, lanjut dia, aliran listrik perusahaan diputus sementara oleh PT. PLN karena perusahaan tidak bisa melakukan pembayaran. “Dalam setahun ini sudah dua kali PLN memutus aliran listrik untuk perusahaan. Kami tidak bisa membayar, karena walaupun tidak produksi, perusahaan harus tetap membayar beban dan sedikit pemakaian untuk rumah tangga, yang jumlahnya mencapai Rp1 miliar,” ujar Joni, seraya mengatakan, kerugian yang dialami perusahaan saat ini mencapai 150-200 US Dollar/tahun..

Sementara, Ketua DPD SPKEP Banten Kamal, menegaskan, apapun yang terjadi terhadap perusahaan, buruh akan tetap menuntut haknya mendesak peninjauan upah yang telah diatur dalam PKB. Pasalanya peninjauan upah itu, kata dia, sudah diajukan sejak Agustus 2007 sebelum perusahaan menghentikan operasi. “Akan tetapi nyatanya sampai kini, isi PKB yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak tidak dilaksanakan manajemen,” kata Kamal.

Ketua Komisi II DPRD Cilegon Adad Musaddad berjanji akan melakukan panggilan kepada manajemen perusahaan tersebut. Panggilan ini, kata dia, merupakan upaya panggilan ketiga, karena pada saat pemanggilan sebelumnya, manajemen perusahaan tidak memenuhi undangan. “Kami bersama eksekutif akan membantu buruh menyelesaikan persoalan ini. Jika panggilan yang ketiga kalinya ini tidak juga diindahkan, kami akan melakukan panggilan paksa,” tegas Adad. (J-02)***

One Response

  1. Ass, Pak mau tanya kapan perusahaan ini kembali berproduksi?? klo sdah produksi lagi mohon beritahu saya di 0817178491. sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: