Satpol PP Panggil 35 Pengelola Tempat hiburan

CILEGON, TRIBUN- Sedikitnya 35 pengelola tempat hiburan malam di Kota Cilegon, dipanggil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Cilegon. Hal ini, terkait banyak munculnya keluhan masyarakat terhadap keberadaan tempat hiburan di Kota Cilegon yang diduga kerap menampilkan tarian striptis.

Kasi Penegakan Hukum dan Perundang-undangan pada Kantor Satpol PP Cilegon Dadin Sihabudin mengatakan, keluhan masyarakat terhadap laporan adanya penari striptis tidak hanya disatu titik lokasi tempat hiburan malam saja. Melainkan semua tempat hiburan seperti karaoke, Diskotek dan biliyar menjadi sorotan publik tersebut. Untuk itu, secara satu per satu, pihaknya memanggil para pengelola untuk menjelaskan duduk perkarannya.
 “Ketika muncul keluhan dari masyarakat tentang tempat hiburan tersebut, kami tidak akan tinggal diam, makanya semua pengelola akan kami panggil, dan sekarang sudah dua pengelola yang saya panggil,” tegasnya.

Dalam pemanggilan tersebut, Dadin menanyakan kebenaranan adanya penari setengah telanjang di tempat hiburan malam tersebut. Kata dia, selain melakukan pemanggilan, pihaknya juga selalu memantau beberapa lokasi tersebut untuk membuktikan kebenarannya.  “Kami hanya menanyakan tentang penari-penari itu, tapi dalam pemantauan kami belum menemukan adanya kegiatan pelanggaran tersebut, namun jika ada yang melanggar maka akan kami tindak tegas hingga melakukan menutupan,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu pengelola tempat hiburan di Kota Cilegon bernama Edi mengaku, tidak pernah menyajikan penari-penari yang dimaksud. Namun, dalam program penyajian kepada para pencinta hiburan malam, setiap satu bulan sekali, dirinya selalu menampilkan Disk Jokey (DJ). Namun, keberadaan DJ tersebut tidak diwarnai dengan penari-penari seksi atau setengah telanjang. “Saya akui memang ada sisi-sisi negatif dari keberadaan tempat hiburan, tapi disisi lainnya ada nilai positifnya. Adapun sisi negatif, secara bertahap kami selalu mencoba menguranginya, tapi negatif dalam artian tidak terlalu berdampak,” katanya. Menurutnya, selama ini keberadaan tempat hiburan di Kota Cilegon sudah dinilai kondusif. Dimana segala aturan yang diberlakukan pemerintah tetap dijalankan. Namun, munculnya permasalah ini, kata dia, pasca adanya pergelaran “anyer paradise” yang menampilkan seorang DJ kondang (DJ Riri).

“Sebenarnya dari dulu sudah kondusif, namun ketika ada DJ Riri di Sanghyang Resort, semuanya berubah, dimana masyarakat menilai beberapa tempat hiburan selalu menyuguhkan tarian striptis, padahal striptis itu adanya pada saat acara di anyer,” tandasnya. (Irw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: