Cilegon Tolak Pembangunan PLTN

CILEGON – Sekertaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, Edi Ariadi menolak jika ada pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Wilayah Cilegon. Selain sudah banyak pembangkit listrik di kota baja ini, Edi juga mengkhawatirkan munculnya gejolak dari masyarakat.

“Kami tidak akan menyutujui adanya PLTN di Cilegon, kalau di Banten saya kira cocok di bangun di Kabupaten Lebak. Karena kalau di Cilegon kan sudah banyak pembangkit listrik,” tegasnya.

Menurutnya, gejolak yang akan timbul adalah penolakan dari masyarakat yang menilai nuklir akan membahayakan daerahnya. “Kata nuklir itu yang nantinya dapat meresahkan masyarakat, pasti masyarakat akan protes jika ada PLTN. Pokoknya pemkot Cilegon tidak setuju adanya PLTN,” katanya.

Dipaparkan Edi, di Cilegon terdapat tiga pembangkit listrik yakni, PLTU Suralaya, PLTGU Cilegon di Bojonegara dan Pembangkit listrik milik PT KS. Ia menilai di Cilegon dianggap sudah cukup menjadi daerah pembangunan industri dan pembangkit yang dimaksud.

Cenderung, dengan kondisi saat ini udara di Kota baja ini sudah nampak tidak sehat. Tentunya, pemerintah Kota Cilegon saat ini sedang berupaya membangun ruang terbuka hijau guna menyerap udara kotor.

“Kini pemerintah lebih condong kepada bagaimana membuat udara di Cilegon ini lebih kondusif. Sudah cukup dengan pembangkit-pembangkit dan deretan perindustrian. Kalau ada PLTN, sudah nantinya udara kotor, kami khawatir menjadi malapetakan bagi pemukiman masyarakat dan kawasan industri yang sudah nampak padat. Saya takut ada ledakan nuklir seperti beberapa kejadian di Negara lain,” ujarnya. (yus)

3 Responses

  1. aku belum alumni,,ni…tetep boleh nimbrung,,,kan??
    masih kul tekkim di uns
    Boleh minta bantuan?
    ada tugas utilitas,ni…tentang pembangkit listrik, buat review tentang pembangkitan tenaga listrik sesuai cara pandang tekkim, terutama jika dikaitkan dengan efisiensi, penggunaan energi terbarukan dan masalah lingkungan (i.e. pemanasan global).
    trims..salam kenal

    • bagus tuh topiknya…
      teknik kimia mau melihat ke industri energi listrik.
      tapi sudut pandangnya masih terlalu general, terlebih efisiensi.
      itu sangat penting kl dipertajam dengan efisiensi penggunaan bahan baku pembangkit listriknya, karena berkaitan dengan pemberdayaan sumber daya energi. saran gw bisa dilihat dileteratur World Coal Institute.com
      selamat mencoba…semoga cocok.

      Best regards

      Joe’94

    • Dear

      Pembangkit listrik bisa berasal dari batu bara (misal Indonesia power
      Suralaya Cilegon), bisa juga berasal dari tenaga air (hydro) misal
      bendungan karang kates, Surabaya, bendungan jatiluhur purwakarta dll.
      Bisa juga berasal dari diesel oil misalnya yang ada di Senayan, bisa
      juga yang berasal dari geothermal, misalnya PLTU drajat, kamojang dll.

      Jika di lihat dari sisi lingkungan, pemanasan global, energy
      terbarukan maka energy listrik sangat erat hubungannya dengan issue
      lingkungan.

      Pembangkit listrik yang mempergunakan batu bara mempunyai kandungan
      emisi CO2 yang paling besar jika di bandingkan dengan pembangkit yang
      mempergunakan diesel oil.

      Semakin besar emisi CO2 maka semakin besar pembangkit tersebut
      memproduksi gas rumah kaca, yang akan turut andil dalam mempercepat
      perubahan cuaca (climate change).

      Pada kondisi inilah di tuntut semua aktivis teknik kimia untuk
      memikirkan cara baik di internal perusahaan maupun campaign global
      untuk merubah pembangkit listrik dari high emission menjadi low
      emission, merubah dari pembangkit mempergunakan batu bara menjadi
      diesel oil atau menjadi natural gas atau menjadi geothermal dan atau
      menjadi hydro power.

      Di samping fuel switching, sangat di perlukan effort dari setiap orang
      untuk mau irit dalam penggunaan listrik, semakin sedikit konsumpsi
      listrik, maka akan semakin kecil batu bara yang di pergunakan, akan
      semakin sedikit pula emisi CO2 yang di buang ke alam.

      Program effisiensi energy dan fuel switching bisa mendapatkan bantuan
      dana dari negara maju dengan pola project CDM (clean development
      mechanism) yaitu setiap penurunan 1 ton CO2 maka akan di berikan dana
      incentive sekitar 10 euro.

      Untuk mahasiswa teknik mesin untirta tahun (2007/2008) CDM program
      menjadi salah satu mata kuliah yang saya sampaikan di dalam ilmu
      lingkungan.

      Jika ada yang masih penasaran silahkan hubungi saya kembali..

      dwi handaya
      dwihandaya@gmail.com
      teknik kimia untirta
      http://www.wastewatertreatment.tk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: