Aroma Gas Penuhi Sumur-sumur Warga

 SERANG – Aroma gas yang keluar dari semburan lumpur ternyata bukanlah hal baru yang terjadi di Kampung Astana Agung, Desa Walikukun, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten. Sejumlah kejadian pernah menggegerkan warga di kampung itu sejak tahun 1988 silam. Bahkan sumur-sumur warga di Kampung itu juga mengandung aroma gas.

Sementara, Gubernur Banten Hj Ratu Atut menegaskan kadar gas metan dari semburan lumpur didaerah itu sangat rendah, hanya 0,7 persen, sedangkan debit airnya hanya 5,7 liter kubik perdetik atau 4.904 liter kubik perhari. Gubernur juga menyatakan, terdapat tiga kecamatan di Kabupaten Serang yang memiliki potensi gas metan yang selanjutnya akan dilakukan kajian mendalam. Yakni Kecamatan Carenang, Pontang dan Kasemen.Sejumlah warga yang dijumpai kemarin, mengungkapkan luapan lumpur beraroma gas keberadaannya telah lama dirasakan warga setempat. Lantaran acapkali menggali sumur kerap mengeluarkan aroma tak sedap, semacam bau LPG. Namun saja dari sejumlah peristiwa yang terjadi, kejadian semburan lumpur dari pengeboran air bersih di halaman Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Walikukun termasuk yang terbesar sepanjang peristiwa.

H.Asmawita (57) dan Supri (62), dua warga yang bertetanggaan tak jauh dari lokasi semburan lumpur mengaku pernah mengalami peristiwa serupa pada tahun 1990. “Saya waktu itu ingin membuat sumur pompa, tapi pas ngebor yang keluar lumpur bau gas begitu. Nyembur juga, tapi setelah lama akhirnya berhenti juga, dan langsung saya tutup dengan cor semen,” kata Asmawita.Demikian juga keterangan Supri, bahwa peristiwa juga dialami warga saat menggali sumur untuk keperluan air wudlu di Masjid Al-Mujahidin di Kampung Astana Agung pada tahun 1988. Kejadian itu sangat menggemparkan, karena banyak hewan peliharaan warga yang mati akibat menghirup gas yang keluar dari luapan lumpur. “Ditahun yang sama, kejadian juga terjadi di kediaman KH.Payumi Thowil, di Kampung Astana Timur. Sejak itu lama tak pernah terjadi, dan baru sekarang terjadi lagi,” katanya.

Potensi gas yang ada di daerah itu, dirasakan warga jika membuat sumur untuk kebutuhan cuci dan mandi. Karena jika menggali tanah pada kedalaman 2 meter saja, aroma bau gas sudah merebak tercium. Kondisi itu dirasakan seluruh warga di kampung itu. Tak heran jika sumur-sumur warga di Kampung Astana, menimbulkan aroma gas. “Sumur saya selalu saya tutup rapat, karena kalau ayam masuk kedalam bisa langsung mati,” kata Supri seraya menunjukan sumur yang terletak di dapurnya yang dalamnya hanya 8 meter saja. Sementara Gubernur Banten Hj.Ratu Atut Chosiyah menyatakan, pihaknya telah menerima utusan dari kementrian ESDM yang membawa hasil kajian terhadap kondisi luapan lumpur. “Hasil awal penelitian, gas metan tidaklah membahayakan, karena kadarnya juga sangat rendah, hanya 0,7 persen. Ini sangat beda dengan lumpur Sidoarjo yang debit airnya mencapai 120 ribu meter kubik perhari. Disana (Carenang, red) hanya 5,7 liter kubik perdetik atau 4.904 liter kubik perhari,” katanya. Jenis airnya, jika air yang keluar dari lumpur Lapindo tidak bisa digunakan untuk kebutuhan pertanian, sedangkan air dari luapan lumpur di Carenang bisa dimanfaatkan untuk pengairan pertanian. “Ini baru kajian awal, karena secara visual airnya bisa terlihat dan langsung dialirkan ke irigasi,” ujarnya. Lebih jauh, Atut menjelaskan, di Provinsi Banten terdapat banyak daerah yang memiliki potensi gas alam. Di Kabupaten Serang sendiri terdapat tiga Kecamatan yang memiliki potensi sebaran gas metan. “Dari tofografi yang ada di tiga kecamatan yang terlerak di pesisir utara di

Kabupaten Serang ini berpotensi gas. Hal itu terlihat dari batuan sendimen yang tersebar. Antara lain, kecamatan Kasemen, Pontang dan Kecamatan Carenang. Ketiga kecamatan ini berada pada garis yang sama,” katanya. Terkait potensi itu pihaknya telah meminta kepada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten untuk melakukan kajian mendalam dari potensi yang ada itu. Sementara, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Cepi Suwardi mengaku siap melakukan kajian lebih jauh tentang potensi sumber daya alam itu. Sedangkan saat ditanya hasil rapat koordinasi antar bersama instansi terkait menyikapi masalah ini, bahwa LSM asal Jepang PH Japan Foundation sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas semburan lumpur itu siap bertanggungjawab. Menurut Cepi, organisasi asing itu telah bersedia melakukan upaya pencegahan agar dampak semburan tidak meluas. Upaya itu, antara lain membuat cerobong permanen setinggi 6 meter untuk membuang gas ke udara. “Diwajibkan juga membuat kolam penampung lumpur dan pagar di sekeliling titik semburan. Semua pihak sudah sepakat,” kata Cepi. Pantauan dilokasi kejadian, hingga kemarin golakan lumpur masih terus terjadi. Namun buncahannya tidak membesar. Dilokasi semburan tampak sejumlah anggota TNI membantu warga mengalirkan debit air ke selokan yang dibuat oleh mereka menuju saluran irigasi. Tampak pula tim dari Pusat Geologi Vulkanologi dan Mitigasi Bandung tengah mengambil sejumlah sample material untuk dilakukan penelitian. Akibat semburan tersebut, sebanyak tujuh petak sawah tergenang lumpur dan pasir. Sementara luberan air mengandung belerang sudah menggenangi persawahan sekitar 10 hektare. (yus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: