Demo Boediono Bentrok, 12 Mahasiswa Dilarikan ke Rumah Sakit

Lokasi Pelaksanaan HSP Dikepung Aparat

SERANG – Aksi unjukrasa puluhan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Turtayasa Banten di depan kampus mereka di Jalan Raya Serang-Jakarta, kilometer 4 Serang, berakhir ricuh. Mereka menolak kedatangan Wakil Presiden Boediono dan sejumlah menteri yang menggelar Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-81 tingkat Nasional  di kawasan Kantor  Pusat pemerintahan Propinsi Banten (KP3B), Rabu (28/10).

Kericuhan terjadi saat mahasiswa memaksa berunjukrasa keluar kampus menuju jalan raya yang dilintasi Boediono dan sejumlah menteri tersebut. Saat mahasiswa keluar kampus dan menggelar orasi di jalan raya, sejumlah polisi yang menjaga ketat acara itu langsung memukuli mahasiswa dengan pentungan. Bahkan beberapa diantara polisi menendang mahasiswa hingga mereka kembali masuk kedalam kampus.

Akibat kericuhan tersebut 12 mahasiswa terluka, bahkan lima diantaranya harus dirawat karena menderita luka serius. Diantara mahasiswa yang mengalami luka parah adalah Lulu Adiyatmo (mahasiswa Fisip semester V Untirta), Danang (mahasiswa Fisip semester I), Haedi (mahasiswa Fisip semester V), Carlos mahasiswa Fakultas Hukum semester I) dan Ilham (mahasiswa Fakultas Hukum semester III). Umumnya mereka menderita luka dibagian kepala, tangan dan kaki akibat benturan benda tumpul.

Ketua Koordinator Mahasiswa Untirta Banten, Arfan Hamdani mengatakan, seluruh mahasiswa yang menjadi korban anarki polisi itu sedang dalam perawatan rumah sakit DKT Serang, “Sedang divisum dan perawatan intensif,” ujar Arfan.

Setelah divisum, kata Arfan, pihaknya akan menempuh proses hukum dan menuntut polisi bertanggung jawab atas kekerasan tersebut, “Kami tidak terima perlakuan kasar polisi kepada kami, padahal kami hanya berunjukrasa didalam kampus,” katanya.

Menurut Arfan, aksi demo yang digelar mahasiswa sebenarnya biasa saja, namun perlakuan polisi berlebihan. Dalam aksinya mereka meminta agar Wakil Presiden Boediono mencabut Undang-undang Badan Hukum Pendidikan sebagai produk liberalisasi pendidikan di Indonesia selain itu mahasiswa juga menuntut pencabutan out sourching bagi buruh yang mengakibatkan menurunnya kesejahteraan buruh dan keluarganya.

Kepala Polres Serang, AKBP Indra Gautama saat dihubungi, mengatakan bahwa unjukrasa yang digelar mahasiswa Untirta itu tidak mengajukan surat pemberitahuan sebelumnya kepada polisi, “Tidak ada pemberitahuan,” kata Indra.

Sementara itu,untuk menjaga situasi yang tidak diinginkan akibat kedatangan Wakil Presiden RI Boediono, pengamanan di sekitar kawasan KP3B, lokasi yang menjadi tempat  berlangsungnya acara HSP sangat ketat dan  wilayah itu terkesan dikepung oleh aparat kemanan baik dari TNI maupun polisi.

Bahkan di beberapa titik lintasan yakni jalur masuk ke wilayah tersebut sudah dipasangi sejumlah sniper dan polisi. Pantuan Pelita kemarin,aparat berjaga-jaga mulai dari Pintu Tol Serang Timur hingga jalan protokol menuju lokasi HSP.

Di jalan Syeh Nawawi misalnya, dalam setiap titik dengan jarak 50 meter, polisi dan tentara ditempatkan untuk menjaga kemungkinan terburuk yang datang dari para pengacau kemanan. (yus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: