Wapres Titipkan Imigran Srilanka ke Atut

SERANG – Disela-sela peringatan Hari Sumpah Pemuda Nasional (HSPN) ke 81, yang digelar di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten, Rabu (28/10), Wakil Presiden Boediono sempat menitipkan ratusan imigran gelap asal Srilanka yang hingga kini masih terlunta-lunta di Kawasan Pelabuhan Indah Kiat, Merak, Banten.

Wapres meminta agar Pemprov Banten memenuhi kebutuhan makan dan kesehatan para imigran, serta jangan sampai ada kekerasan terhadap para pencari suaka itu berada di Banten.

“Memang tidak banyak membicarakan persoalan imigran itu, namun pak Wapres meminta agar Pemerintah Provinsi Banten memperhatikan makan dan kebutuhan para imigran itu selama mereka ada di Banten,” ungkap Gubernur Banten Hj.Ratu Atut Chosiyah, saat dijumpai usai menerima audiensi 44 Pemuda yang meliputi Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3) dan Pemuda Pelopor di Kantor Gubernur Banten, kemarin.

Terkait kepastian para imigran itu, Atut menyatakan, bahwa hingga saat ini belum ada keputusan dari Pemerintah Pusat. Ironisnya, pihak Negara Australia selaku Negara tujuan para imigran, juga menolak kedatangan para imigran asal Srilanka tersebut.

Selain Wapres, lanjut Atut, pemerintah pusat secara resmi juga telah meminta Pemprov Banten agar memperhatikan persoalan makan dan kesehatan para imigran gelap tersebut. Surat resmi dilayangkan melalui kementrian dalam negeri, yang salah satu isinya meminta gubernur Banten agar melakukan langkah antisipasi dengan melibatkan unit kerja terkait di daerah.

Di dalam surta bernomor 300/3606/SJ Gubernur Banten diminta agar mempersiapkan penampungan sementara, makan dan tenaga kesehatan, serta diminta agar berkoordinasi dengan jajaran Kanwil Dephumkam Banten, Polri dan jajaran terkait lainnya.“Kalau kepastiannya, hingga sekarang belum ada keputusan,” kilah Atut.

Sementara, hingga saat ini para imigran masih terus melancarkan aksi protes dan meminta agar Australia menerima dan memberikan suaka terhadap mereka. Juru bicara Imigran, Alex, meminta agar Australia komitment melaksanakan konvensi Geneva 1951 untuk memberikan suaka kepada para imigran.

Pihaknya juga memilih mati daripada harus kembali ke Srilanka, karena mereka takut dihabisi di negara yang tengah terlibat konflik tersebut. Para imigran terus melancarkan protes, dengan cara aksi mogok makan, aksi bungkam dan sejumlah aksi protes yang dibentangkan di kapal kayu Jaya Lestari V. (yus)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: